Translate

Kamis, 05 September 2013

Prof. Rudi



September, 4th 2013
09.46 PM
Bersama Pak Rudi di Kebun Teh
Saya  memanggil beliau dengan sebutan Prof. Rudi[1] atau Pak Rudi. Di jurusan beliau terkenal sebagai dosen pembimbing yang killer. Kenapa killer? Ini berdasarkan fakta saya, teman-teman, serta senior yang telah mengalami. Kalau bimbingan bersama Prof. Rudi seperti memasuki ruang sidang pengadilan. Semua mahasiswa bimbingan Prof. Rudi menjadi alim sejenak. Semua doa, zikir, serta ayat untuk penenang diri dibaca sebelum melakukan bimbingan.
 
Selain doa, zikir, dan ayat masih ada senjata lain yang harus dipersiapkan untuk bimbingan dengan beliau yaitu bahan bacaan sebagai penguat jawaban ketika ditanya tentang skripsi. Tapi, cara ini sering gagal karena peserta bimbingan sering gugur di awal pertandingan. Prof. Rudi ternyata lawan yang sangat tangguh dalam hal ini. Cara Prof. Rudi menaklukan lawan cukup dengan memberi tatapan sekilas dan memegang skripsi, kemudian lawannya siap-siap menjawab pertanyaan Prof. Rudi. Biasanya belum selesai menjawab, sudah dipotong Prof. Rudi, kemudian akan berlanjut ke adegan yang menengangkan.

Biasanya percakapannya seperti ini, “(1) apa rumusan masalahnya?; (2) antara latar belakang dan rumusan masalah tidak nyambung; (3) kamu ada membaca tidak; (4) dan pertanyaan lainnya. Saya sudah bilang baca, baca, baca, dan baca baru tulis yang akan disampaikan dalam skripsi.” Tetttt, suara Prof. Rudi setelah itu akan naik beberapa oktaf. Kenaikan suara ini alarm bagi mahasiswa bimbingannya yang lagi antri diluar. Kalau sudah begini, biasanya antrian yang mau bimbingan berkurang. Alasan mereka kalau sudah begini berarti ujung-ujungnya kita semua dimarahi seperti itu. Itu alasan yang digunakan bagi mahasiswa yang mempunyai mental kere. Bagi yang bermental baja akan terus menerjang badai dan ombak untuk melakukan bimbingan. 

Hal-hal yang saya tuliskan tersebut sebagai prolog untuk mengenal Prof. Rudi. Sudah menjadi rahasia umum di kalangan mahasiswa kalau Prof. Rudi sebagai dosen bimbingan yang paling killer. Sehingga, atas persetujuan bersama para pendahulu kami, tanpa ada kontrak tertulis menyatakan bahwa mahasiswa yang mendapat bimbingan dari Prof. Rudi siap-siap menuntut ilmu di kampus minimal 5 tahun.

Sugesti-sugesti dari pendahulu sepertinya memberikan pengaruh yang cukup efektif bagi kami para junior terhadap ke-killer-an Prof. Rudi. Semua sugesti yang diberikan oleh senior tergantung bagaimana kami para junior mengelola dan membuktikan kepada mereka bahwa kami bisa menyelesaikan kuliah 4 tahun Prof. Rudi.

Saya telah membuktikan hal tersebut. Saya sudah mendapat bocoran tentang ke-killer-annya dari senior jika memilih Prof. Rudi jadi pembimbing. Ketika mereka mengatakan hal tersebut saya telah membulatkan tekad untuk tetap memilih Prof. Rudi sebagai pembimbing. Saya ingin mematahkan sugesti dari senior dan akan membuktikan bisa menyelesaikan kuliah 4 tahun. Selain itu, salah satu prinsip hidup yang mengendalikan saya tetap memilih Prof. Rudi adalah jangan pernah melewatkan sebuah tantangan di depan mata. Bagi saya menjadi mahasiswa bimbingan Prof. Rudi adalah sebuah tantangan. Cita-cita saya waktu itu, ingin menutup masa kuliah dengan sebuah cerita seru.

Prolog di awal tulisan ini merupakan kisah yang telah  dilewati bersama teman-teman satu pembimbing. Prof. Rudi benar-benar membimbing kami untuk sebuah kualitas bukan kuantitas. Bagi beliau, proses belajar dan mengubah pola pikir adalah hal yang penting. Metode yang beliau berikan kepada saya dalam bimbingan adalah banyak membaca buku terutama yang berhubungan dengan topik penelitian. Hasil yang didapat dari membaca buku adalah kemampuan menulis suatu objek penelitian dan bagaimana menuangkan hasil penelitian secara objektif.

Saya belajar menulis dari Prof. Rudi ketika menulis sebuah skripsi. Skripsi saya berbeda dengan skripsi teman-teman lainnya. Di skripsi saya menulis cerita kehidupan sehari-hari masyarakat yang menjadi objek penelitian.

Awalnya saya berpikir, hanya menulis cerita tanpa ada rumus dan table. Ini akan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Ternyata saya salah besar, menulis sebuah cerita sangat sulit daripada menulis hasil table dan rumus. Saya jatuh bangun bimbingan menulis cerita tersebut dengan Prof. Rudi. Saya telah menghitung selama 11 bulan insentif bimbingan dengan Prof. Rudi revisi proposal penelitian sebanyak 10 kali, revisi hasil penelitian sebanyak 13 kali, revisi seminar hasil sebanyak 7 kali (ini yang paling parah, saya merevisi hampir semua hasil skripsi menggunakan kata-kata sendiri. Bagian ini yang melatih saya menulis dan memainkan permainan kata-kata, serta kalimat), dan revisi akhir sebanyak 5 kali.

Berdasarkan angka-angka tersebut, terlihat bahwa saya sangat konsisten bimbingan dengan Prof. Rudi. Konsultasi hari ini, baca buku, perbaikan, dan besoknya bimbingan lagi. Selama periode 11 bulan saya benar-benar focus skripsi dan sempat berhenti sebulan karena ikut proyek penelitian dosen. Latihan menulis selama 11 bulan merupakan sebuah proses yang cukup panjang. Saya belajar dan mengikuti ritme yang diberikan oleh Prof. Rudi.

Sebelum bimbingan saya dan teman-teman selalu berdiskusi dan saling menguatkan untuk melakukan bimbingan. Banyak cerita yang telah kami lalui, serta eksperesi yang didapat selama bimbingan. Salah seorang teman saya setiap selesai bimbingan keluar dengan linangan air mata dan air mata. Teman yang lain sebelum bimbingan tangannya sudah dingin, dan eskpresi lainnya. Kalau saya selama 11 bulan tersebut pernah menangis terisak-isak 2 kali yaitu saat kelulusan sidang dan bimbingan hasil.

Bimbingan hasil penelitian ini sebenarnya memang kesalahan saya, Karena ingin cepat kelar skripsi setelah dari lapangan saya langsung menuliskan hasil penelitian tanpa konsultasi dengan beliau. Alhasil ketika membawa skripsi itu, bapak marah dan hanya melihat sekilas hasil yang telah dibuat. Saya ingat sekali hari itu, ketika air mata pertama keluar selama bimbingan memakai kemeja kuning polos serta cuaca yang mendung-mendung mendayu. Langkah kaki yang bersemangat untuk konsultasi sama beliau, eh ternyata keluar dari ruangan langsung nangis.

Saya juga ingat perkataan beliau hari itu dan ekspresinya ketika konsultasi, “apa yang bikin ini? Seperti ini skripsi yang ingin kamu hasilkan? Seharusnya setelah dari lapangan kamu langsung mendatangi saya untuk diskusi penulisan hasil. Kalau seperti ini skripsi kamu tidak ada bedanya dengan skripsi yang dahulu. Metode penelitian kamu kualitatif, jadi poin dari penelitian ini adalah bercerita secara detail hal yang kamu lihat secara objektif. Ulang lagi hasil penelitian ini.” 

Penglihatan sekilas yang langsung membuat down, tetapi yang dibilang oleh beliau semua benar. Setelah memarahi beliau mencarikan buku-buku yang sesuai dengan kepenulisan skripsi tersebut. Saya dipinjamkan buku Kehidupan 5 Keluarga Miskin di Meksiko dan Keluarga Nelayan. Seperti itu kira-kira judul bukunya. Saya membaca buku tersebut, ternyata buku tersebut disajikan seperti novel non-fiksi. Dari membaca buku tersebut dan jurnal penelitian kualitatif saya memahami kalau kekuatan skripsi saya adalah bercerita.

Seminggu kemudian saya menemui Prof. Rudi, beliau sedikit mengeluarkan pujian, “cara kamu mendeskritifkan sudah lumayan bagus. Sekarang kamu arahkan pembaca untuk mengerti poin yang ingin kamu sampaikan. Kalau seperti ini tulisannya pembaca tidak mengerti hal yang ingin kamu sampaikan.” Dari kalimat ini saya belajar bagaimana mengarahkan pembaca dan membuat pembaca menyukai tulisan dengan mengelompokkan poin-poin yang disampaikan.

Saya belajar menulis terus, setiap hari menulis, membaca jurnal-jurnal yang berkaitan dengan penelitian. Jungkir balik membuat tulisan menjadi lebih baik, jungkir balik bimbingan dengan Prof. Rudi. Saya tetap menghadapi beliau, kekerasan beliau saya jadikan cambuk untuk berusaha lebih keras. Karena saya yakin dengan kata-kata beliau awal kami bimbingan, “saya ingin kalian mampu menghasilkan sesuatu, skripsi kalian tidak hanya menjadi pajangan di perpustakaan. Tapi digunakan oleh orang banyak sebagai sumber reverensi. Hal yang paling penting itu adalah kualitas bukan kuantitas.”

Saat jenuh melihat skripsi saya mencoba menulis hal-hal sederhana yang luput dari perhatian. Saya mencoba merangkai kata-kata sendiri yang berbeda haluan dengan kepenulisan skripsi. Satu tulisan selesai, lanjut tulisan selanjutnya. Ternyata kebiasaan ini menyenangkan ada hal melegakan ketika menyelesaikan sebuah tulisan.

Ternyata tempaan keras hasil didikan beliau sangat bermanfaat bagi saya sekarang. Di pekerjaan hari ini saya berhubungan dengan tulis-menulis hasil penelitian. Saya lebih kritis dalam menghadapi sebuah realita di pekerjaan. Secara pikiran sepertinya cara berpikir Prof. Rudi te;ah menular kepada saya. Selain itu saya juga bisa menolong teman-teman untuk kepenulisan skripsi, tulisan ilmiah dan mampu mengkritik sebuah tulisan yang jelek. Dulu saya menilai semua tulisan itu bagus, orang yang bisa menulis pintar. Ternyata setelah bimbingan dengan beliau saya mulai melihat sebuah tulisan dari perspektif yang berbeda. Itu semua berkat didikan beliau selama 11 bulan.

Sejak tadi sepertinya saya bercerita tentang ke-killer-an Prof. Rudi ketika bimbingan. Padahal selain ke-killer-annya tersebut banyak sisi menyenangkan Prof. Rudi yang bisa diceritakan. Ketika kami merayakan ulang tahunnya, kami melihat sosok Prof. Rudi yang berbeda, beliau begitu menyenangkan dan kami bisa bercanda-gurau dengannya. Bahkan bapak menjanjikan untuk mengajak kami bakar-bakar ikan di rumahnya.
Bersama teman-temam satu pembimbing
Melihat sosok lain Prof. Rudi ketika kegiatan pratikum di lapangan. Semua imej kekillerannya tidak kelihatan sama sekali. Selain itu di kelas cara Prof. Rudi mengajar benar-benar luar biasa. Beliau mengarahkan pikiran kami kepada suatu kondisi, disana kami dibebaskan untuk mengeluarkan pendapat dan melihat kondisi tersebut dari berbagai sudut pandang. Ini melatih kemampuan logika kami untuk melihat dan menganalisis permasalahan. Beliau juga mendorong mahasiswanya yang ingin maju, selalu memberi support. Seperti saya ikut Program Indonesia Mengajar, beliau mendukung karena program itu bagus sebagai sarana belajar. Beliau juga antusias melihat mahasiswa-mahasiswa didiknya berprestasi. Beliau sangat menyenangi social budaya masyarakat pedesaan. Dari beliau saya belajar tentang social budaya masyarakat pedesaan dan berhasil membuat sebuah skripsi yang berhubungan dengan social masyarakat pedesaan. Sebentar lagi saya akan terjun langsung memahami social budaya masyarakat pedesaan melalui Program Indonesia Mengajar.

Selain itu cirri khas dari Prof. Rudi adalah celana jeans, jaket kulit, kemeja, serta ransel. Kalau orang yang melihat mungkin tidak menyangka bapak itu sebagai guru besar. Kostumnya tersebut tidak menggambarkan sebagai seorang guru besar di imajinasi kita. Bagi kami mahasiswa bimbingan untuk melihat kehadiran dan kepulangan Prof. Rudi di kampus, cukup mengintip ke ruangannya dan melihat jaket kulitnya. Jika jaket kulitnya masih tergantung, berarti beliau masih beredar di kampus.

Bagi saya sungguh beruntung dibimbing oleh Prof. Rudi, karena hasil bimbingannya berdampak banyak bagi saya hingga sekarang. Walaupun beliau mendidik kami keras, tapi kekerasannya itu untuk pengembangan kemampuan bertahan di dunia nyata. Saya juga berhasil mematahkan hasil deklarasi senior kalau anak bimbingan Prof. Rudi paling cepat tamat 5 tahun. Hari ini hampir setahun saya menyelesaikan kuliah dan berhasil tamat kuliah dalam kurun waktu 4 tahun. Bagi teman-teman yang seperjuangan dengan saya Chika, Dini, Endis, Lola, Cuwik, Fani, dan Ico tetap semangat meluluhkan hati Prof. Rudi. Saya tunggu di dunia nyata secepatnya. Beberapa tahun ke depan saya ingin bergabung di tim Prof. Rudi dan Ibu Vonny untuk mengabdikan diri di bidang pendidikan.

Nah ini tips untuk teman-teman seperjuangan dan junior yang bimbingan dengan Prof. Rudi :
1.    Jangan pernah mendengar sugesti yang diucapkan oleh orang tentang kekilleran Pro. Rudi, tetap songsong badai untuk bimbingan dengan beliau.
2.    Jangan perah menghilang dari beliau, selalu konsisten selama bimbingan. Jangan seperti ayam bertelur sekali bimbingan, dimarahi, 3 bulan kemudian baru menemui. Nah ini yang bikin lama tamat.
3.    Kekerasan bapak membimbing untuk kebaikan kita dan melatih mental di dunia kerja nanti. Coba saja rasakan saat berpisah dengan beliau, pasti sedih karena tidak ada yang akan membimbing lagi. Apalagi kalau di kantor bertemu dengan orang yang tidak sekeras beliau, pasti pekerjaan akan enteng saja menyelesaikannya.
4.    Rajin-rajin membaca, kembangkan pengetahuan terutama yang berkaitan dengan penelitian. Bapak senang jika ada usaha dari kita untuk menjadi lebih baik.
5.    Selalu latihan menulis, apa yang dikonsultasikan dengan beliau kerjakan dengan sebaik-baiknya.
6.    Saran yang paling penting ini sebaiknya ketika diskusi dengan beliau direkam, karena biasanya kalau hal yang disampaikannya bakal hilang setelah menutup pintu ruangannya. Kenapa bisa hilang? Karena pikiran kita udah di blok melihat ekspresi beliau.
7.    Dengarkan terus hasil rekaman itu. Ketika sudah paham langsung cari bahan bacaan kemudian mulailah menulis biar bisa konsultasi lebih lanjut.
8.    Kekonsistenan dalam menulis juga harus diperhatikan. Beliau hanya dengan melihat sekilas skripsi kita sudah mengetahui letak kesalahan skripsi.
9.    Siapkan argumen yang jelas terkait dengan skripsi. Jadi intinya sebagai penulis kita harus paham skripsi yang dibuat.
10.              Itu sedikit tipsnya menghadapi beliau, mungkin teman-teman punya tips lainnya silahkan di share saja.

RN


[1] Kalau ini ikut-ikut cara mahasiswa luar memanggil dosennya

Mama, Papa, dan Awal Ingin Menuliskan Suatu Kisah



September, 4th 2013
09.18 A.M
Nah ini foto keluarga bersama mama, papa, adik-adikku
Lembaran ini saya persembahkan khusus untuk orang tua yang telah membesarkan diriku dengan penuh kasih sayang dan cinta. Terlalu banyak yang ingin saya tuliskan di lembaran kertas ini. Tetapi, untaian kata ini tidak akan cukup untuk menuliskan setiap momen yang telah saya lewati dengan kedua orang ini. 

Hal yang mendorong saya untuk menulis adalah ucapan papa beberapa tahun lalu, “sekarang Esil membeli dan membaca buku orang lain, suatu saat karya Esil yang akan menghiasi lemari buku ini dan orang-orang akan membeli dan membaca karyamu.” Kata-kata ini selalu saya ingat setiap kali ke toko buku, membaca, dan menulis. Tetapi waktu itu saya hanya mendengarkannya tanpa menulis. Papa mengatakannya ketika saya masih duduk di bangku kuliah tingkat 2. Ketika itu saya belum berhubungan dengan dunia kepenulisan, tetapi saya telah menjadi pelanggan setia toko buku setiap akhir minggu.

Sebenarnya kecintaan saya terhadap buku dan membaca dimulai dari kecil, Waktu kecil saya sudah terbiasa mandiri untuk belajar, mencari ilmu sendiri. Ketika saya mencari sendiri ilmu tersebut saya menemukan kumpulan buku di rumah seorang saudara angkat. Saya melihat isi buku tersebut dan mulai membaca. Sejak saat itu saya selalu mencari buku dan akhirnya minta dibelikan buku ke orang tua. 

Orang tua terutama mama, hati-hati membelikan buku-buku bacaan yang tidak bermanfaat. Beliau lebih suka saya membaca buku pelajaran dan belajar. Tetapi, tidak saya lakukan karena saya orangnya keras kepala. Saya malah pergi ke rumah saudara angkat yang memiliki banyak buku. Hal yang lucunya ketika sudah memegang buku saya lupa waktu, sehingga sering telat pulang ke rumah. Nah, kalau sudah begini saya siap-siap mendapat hukuman dari mama. Mama adalah sosok yang cukup keras dalam mendidik saya. Tetapi, saya sadar karena hukuman ini diterima karena saya orangnya nakal, keras kepala, dan sering melanggar peraturan yang dibuat mama.

Walaupun jarang belajar, saya selalu masuk rangking 3 besar di sekolah. Setiap hari ketika saya membawa pulang ke rumah nilai sempurna akan dikasih hadiah tambahan uang saku oleh mama. Uang saku ini saya tabung dan setiap minggu saya belikan majalah bobo atau ina bekas di pasar dekat rumah. Waktu itu saya tinggal di daerah, jadi tidak ada toko buku maupun kios majalah. Saya membeli majalah  tersebut diam-diam dan membacanya diam-diam. Saya lakukan ini karena takut majalahnya disita oleh mama sebelum dibaca. Setelah selesai membaca baru majalah-majalah tersebut saya bawa pulang dan disimpan di tumpukan buku-buku pelajaran.

Hal yang paling menyenangkan ketika bepergian sama papa. Ketika ke kota kabupaten atau melewati kota Padang, saya selalu mengajak papa singgah di toko buku atau kios majalah terdekat. Melihat toko buku, perpustakaan dan kios majalah waktu itu sampai sekarang bagi saya adalah sebuah dunia yang menyenangkan. Di toko buku saya dipersilahkan memilih beberapa buku dan majalah untuk dibawa pulang tanpa banyak pertimbangan. Selain itu apabila papa ada dinas ke kota-kota saya selalu menitip untuk dibelikan buku. Terkadang mama juga kooperatif, mau membelikannya ketika melewati kios majalah. Walaupun izin sama mama tidak seluwes papa untuk membaca hal-hal seperti itu.

Ketika kelas V SD papa pindah kerja ke kabupaten lain. Awalnya saya sedih karena kepikiran tentang buku-buku dan majalah-majalahnya. Saya berpikir disana adakah rumah yang memiliki koleksi buku yang banyak, kios-kios majalah serta toko buku. Tetapi, yang bikin sedihnya lagi ketika pindahan majalah saya dipinjam oleh teman dan belum dibalikin. Padahal mereka tahu saya bakal berangkat dan pindah dari daerah tersebut. Hingga keberangkatan  teman yang meminjamkan majalah tersebut tidak muncul.

Awalnya masa adaptasi dengan lingkungan cukup sulit, karena perbedaan bahasa minang yang digunakan. Teman-teman di sekolah memandang saya aneh karena bahasa yang berbeda. Setiap pulang sekolah saya lebih sering berkelahi dengan teman-teman (kenakalan masa kecil ternyata masih berlanjut). Puncak kemarahan dan kesyirikan teman-teman sekolah terutama para pemegang juara kelas adalah saat mereka tidak mampu menyelesaikan soal matematika di kelas. Padahal bagi saya itu adalah hitungan yang gampang.
Ternyata di sekolah baru guru belum menyampaikan materi sampai disana. Hal ini membuat saya dongkol dan berkata ke orang tua sekolah baru tidak bagus, pelajarannya masih kalah dengan sekolah lama, teman-temannya sama sekali tidak menyenangkan, kompetensi disini tidak jujur, dan lain sebagainya. Ajaran di rumah sejak kecil yang diterapkan oleh mama adalah selalu kritis ketika menemui ketidakadilan. Jadi dari kecil saya sudah terbiasa menyuarakan hal-hal yang berbau ketidakadilan dari mama.

Di sekolah baru saya juga tidak mempunyai teman yang hobby membaca buku dan belum menemukan koleksi buku di rumah orang-orang. Kemudian kesempatan itu datang, saat jadwal piket kami disuruh membersihkan ruangan guru, disana saya melihat banyak koleksi buku-buku baru. Mata ini langsung berbinar seperti menemukan sebuah oase di tengah kekiringan. Akhirnya saya melobby guru agar boleh meminjam buku-buku tersebut.

Sejak kepindahan mama sudah mulai sedikit longgar dengan kesenanganku membaca buku. Mungkin beliau capek juga menyuruhku belajar karena sering diacuhkan. Setelah mengantongi izin peminjaman buku, saya semakin banyak melahap buku-buku bacaan tersebut di rumah. Lupa waktu pasti kalau sudah membaca buku. Tidak belajar sudah pasti juga. Cuma mama tidak lagi sering marah-marah kalau mendapati diriku membaca buku. Karena kemarahannya selalu kubantah dengan nilai-nilai yang selalu bagus dan mendapat selalu menduduki peringkat 3 besar di sekolah. Sebenarnya masalah peringkat ini berlaku tidak adil bagiku di sekolah, mungkin bagian ini akan diceritakan di bagian lainnya.

Sebenarnya tujuan mama sangat baik menyuruhku belajar, karena dia tidak ingin anaknya kelihatan bodoh. Mama selalu membanding-bandingkanku dengan teman sekelasku yang rumahnya berdekatan dengan saya. Mama bilang seperti ini, “lihat itu teman kamu, pulang sekolah belajar, malam belajar, pagi belajar. Kamu mama lihat sibuk membaca buku-buku cerita itu.” Kalau mama sudah mengoceh seperti ini biasanya saya diam saja dan terkadang juga menjawab, “biar saja dia belajar ma, tapi nilai sil selalu bagus dari dia. Karena faktor ketidakadilan saja rangkingnya lebih tinggi dari sil. Esil yang tidak belajar saja mampu dapat rangking di bawah dia *walau dalam hati sebenarnya mau menjawab nilaiku selalu lebih tinggi dari dia*”. Kalau sudah begini mama bakal diam saja.

Saya tidak tahu ini sebagai sebuah kutukan lagi di SMP mama jadi langganan datang ke sekolah karena hampir setiap hari berkelahi. Teman-teman SMP lagi-lagi memandang saya sebagai makhluk aneh karena perbedaan bahasa. Musuh saya tidak hanya teman-teman seangkatan, tetapi juga kakak tingkat. Saya berkelahi dengan anak laki-laki yang satu angkatan. Mama geleng-geleng kepala melihat kelakukan ini, sedang papa kasih nasehat sambil tersenyum-senyum.

Walaupun jadi ratunya dalam berkelahi kebiasaan membaca buku tidak pernah tinggal. Sekarang giliran perpustakaan SMP yang jadi langganan peminjaman buku. Namanya juga masa remaja yang penuh dengan kenakalan-kenakalan, saya sering tidak mengembalikan buku yang dipinjam dengan alasan hilang. Padahal buku-buku tersebut saya jadikan koleksi di rumah. Petugas perpustakaan sering marah-marah karena kebiasaan jelek ini. Dan ujung-ujungnya saya terpaksa berbohong ke orang tua kalau menghilangkan buku perpustakaan dan disuruh mengganti (sebenarnya ini kenakalan yang tidak patut ditiru).

Mama hanya mengomel menghadapi realita ini dan papa hanya bisa tersenyum. Walaupun saya nakal, untuk pelajaran tmasih bisa bersaing dengan teman-teman. Selain itu beberapa guru juga sayang dan menjadikan saya asistennya dalam beberapa mata pelajaran. Tetapi, mama kadang-kadang masih sering marah-marah juga karena dia tidak pernah melihat saya belajar. Dan lagi-lagi membandingkan dengan teman-teman.

Berkat kebiasaan mama dan papa mendidik untuk menjadi seorang kritis, ketika SMP saya diberlakukan tidak adil lagi (bagian ini mungkin akan saya ceritakan di tulisan lainnya). Saya sempat marah, tetapi papa memberi nasehat, “buktikan, suatu saat kamu bakal lebih berhasil dari mereka.” Satu kalimat yang diberikan papa selalu kuingat, walau sekarang saya masih diberlakukan tidak adil, tetapi saya yakin setelah ini akan berhasil dari mereka.

SMP merupakan masa-masa segar bagi kehidupan remaja, uang saku bertambah dan itu berarti saya bisa menabung untuk membeli majalah baru. Sekarang bacaan saya tidak Majalah Bobo dan Ino lagi, tetapi sudah pindah ke Majalah Aneka Yess! Tabloid Gaul dan Keren Beken, serta buku bacaan sudah meningkat kadar bahasanya seperti Tom Sawyer, Roman Siti Nurbaya, dan lainnya. Selain itu majalah-majalah tersebut saya dapatkan baru, tidak bekas seperti jaman SD.

Mama telah melonggarkan aturannya, setiap kamis dia bersedia membelikan Majalah Aneka Yess! hasil tabungan uang saku seminggu dan tambahan dari mama. Saya mengetahui dunia remaja dari majalah tersebut, namun realita yang dihadapi orang tua melarang pacaran hingga SMP. Karena masih ingat larangan tersebut, sampai umur 23 tahun ini saya masih mematuhi larangan mama dan papa. Padahal larangan tersebut telah dicabut saat masuk SMA.

Memasuki dunia SMA, hidup saya penuh warna-warni. Mengenal namanya cinta pertama dan ironisnya sampai sekarang setelah 7 tahun saya masih mencintai cinta pertama tersebut. Mungkin karena ini salah satu saya tidak pacaran sampai sekarang ya. Saya bertemu dengan teman-teman baru dari daerah yang berbeda dan menemukan teman-teman yang memiliki hobby yang sama membaca buku. Kami saling bertukar informasi mengenai buku bacaan yang bagus dan yang lebih menyenangkan dia mempunyai banyak koleksi buku. 

Di SMA saya berhasil membuktikan perkataan papa bahwa saya bisa berhasil dari teman-teman waktu di SMP. Hal ini dibuktikan saya mengikuti olimpiade sains hingga tingkat provinsi dan atas prestasi ini saya mendapatkan beasiswa prestasi di SMA, mendapat hadiah uang tunai. Uang-uang ini selalu saya simpan ke mama sebagai bentuk tabungan.

Hal kecil yang selalu dibiasakan oleh orang tua sejak kecil adalah jika menginginkan sesuatu berusahalah mendapatkannya. Sejak kecil saya sudah biasa menabung uang untuk membeli buku-buku atau majalah. Di SMA uang yang saya peroleh dari beasiswa dan hadiah olimpiade saya gunakan untuk membeli hp dan buku bacaan. Waktu kelas 2 SMA saya membeli HP Nokia 3230, waktu itu hp ini keluaran terbaru yang harga belinya Rp.2.000.000,00. Ada kesenangan tersendiri ketika mampu membeli barang mahal dari duit tabungan.

Ketika SMA saya pernah jatuh dari motor, waktu itu masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Awalnya saya tidak merasakan keanehan, setelah itu saya sering pusing kepala dan setelah itu langsung pingsan. Kondisi ini saya alami selama SMA hingga tamat SMA. Saya kasihan lihat mama dan papa yang sering menangis diam-diam melihat kondisi ini dan terus berusaha mencari tempat berobat.

Hingga akhirnya atas saran seorang teman mama, saya berobat ke kota provinsi. Setiap minggu saya bolak-balik kesana kadang seminggu 2 kali saya pergi kesana untuk konsultasi kepala. Saya sangat gembira karena kesempatan untuk membeli buku di toko buku idaman semakin dekat. Saya selalu pergi berobat dengan mama. Masih ingat dengan mama yang sedikit keras kalau masalah bahan bacaan? Nah disini berbagai cara saya lakukan untuk membujuk dia untuk singgah di toko buku sebelum pulang. Saya berhasil membujuk mama dengan mengatakan, “buku ini untuk olimpiade astronomi ma. Sekarang bahan bacaan esil sedikit sekali.” Akhirnya mama bersedia membelikan buku untuk bahan bacaan astronomi, selain mendapatkan itu saya harus pintar melobby mama untuk memperoleh buku idaman. Buku pertama yang saya beli di toko tersebut yaitu The Da Vinci Code karya Dan Brown. Bagi siswa SMA buku itu lumayan berat bahasan dan bahasanya, tetapi saya berhasil bilang ke mama, “buku ini berguna ma, walau seperti novel di bagian dalamnya banyak membahas tentang ilmu pengetahuan.” Mama sepertinya curiga ini adalah novel, dia tetap mengiyakan dengan syarat ini buku kamu beli pakai uang tabunganmu sendiri. Yes, akhirnya saya mendapatkan buku tersebut.

Memasuki jenjang kuliah saya pindah ke kota provinsi dan diberi uang jajan bulanan. Setiap bulan saya selalu menyisihkan uang jajan untuk membeli sebuah buku. Jika papa ada kerja ke kota provinsi saya selalu mendapat uang saku tambahan dan uang saku tersebut langsung saya bawa ke toko buku untuk membeli buku baru. Uang yang saya punya lebih banyak saya habiskan untuk membeli buku-buku dan makanan. Walaupun saya membeli buku dan membacanya saya tidak pernah mencoba untuk menulis.

Kenapa? Karena saya masih berpikir belum waktunya untuk menulis. Hingga papa muncul dengan kegagahannya mengatakan bahwa suatu saat saya akan mampu menuliskan sebuah kisah.

Di tahun akhir saya harus menulis skrispi. Keharusan ini membuat saya belajar menulis dan membaca berbagai macam bacaan (bagian tahun akhir kuliah ini, akan muncul di tokoh selanjutnya). Sekarang saya sudah bekerja dan menulis adalah keharusan bagi saya terkait dengan pekerjaan sebagai seorang peneliti. Saya menulis laporan, menulis aspek social budaya, menulis kejadian-kejadian hidup. Walaupun tulisan tersebut masih sederhana dan sedikit orang yang membacanya, tetapi ada kepuasan sendiri saat mampu menyelesaikan tulisan. Terima kasih mama dan papa yang mempercayakan kemampuan bahwa saya bisa menulis.
                                                                                                                        RN

Orang-orang yang Mempengaruhi Kehidupanku Hari ini



September, 3rd  2013
03.18 P.M.

Setiap orang pasti mempunyai orang yang mempengaruhi kehidupannya. Orang  tersebut tidak harus seorang superstars atau orang yang terkenal. Orang-orang sederhana pun bisa menjadi orang yang mempengaruhi diri kita. Bagi saya orang yang berpengaruh terhadap kehidupan sekarang yaitu orang-orang yang berjuang membantu saya untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Orang-orang tersebut berhasil mempengaruhi karakter, cara pandang hidup, serta pola pikir saya. Siapa saya detik ini adalah pengaruh dari berbagai orang-orang tersebut. Saya mengagumi serta mencintai orang-orang tersebut. Saya selalu melakukan dan berusaha yang terbaik untuk orang-orang tersebut. Kenapa saya melakukan itu semua? Karena setiap langkah saya selalu ada nasihat, semangat, serta do’a bahkan amarah untuk membuat saya menjadi lebih baik lagi.

Jika diucapkan dengan kata-kata semata, maka kata-kata tersebut tidak terlalu berarti dengan hasil yang saya terima saat ini. Semua nasehatnya, cerita-ceritanya, semangat, do’a, serta amarahnya saya jadikan sebagai sebuah motivasi untuk diri sendiri. Mereka ingin saya menjadi lebih baik, berusaha lebih keras, dan mampu berkarya di masa yang akan datang.

Orang-orang tersebut tidak harus selalu orang yang melihatku tumbuh dan berkembang dari kecil. Tapi, orang tersebut bisa dijumpai di dimensi waktu lain yang sebelumnya saya tidak pernah terpikir untuk bertemu dengannya. Mereka memberikan sebuah pandangan baru bagi pembentukan pola pikir serta karakter diri. Mereka membuat saya merasa menjadi lebih baik. Tanpa peran mereka mungkin saya tidak akan berdiri disini, menuliskan kisah kecil ini. Menuliskan pengalaman dan pelajaran hidup yang pernah saya dapat selama ini.

Saya ingin menampilkan orang-orang tersebut dalam sebuah memoar pengalaman yang pernah dilakukan bersama sosok-sosok tersebut. Kalau dituliskan detail secara keseluruhan mungkin lembaran-lembaran kertas tidak akan mampu menampung untaian kalimat yang tertuang di dalamnya. Saya tidak peduli apakah orang tersebut berpengaruh besar atau kecil terhadap kehidupan saya di hari ini. Inilah sebuah tulisan ringan untuk mengabadikan kenangan saya bersama orang-orang tersebut. Saya tidak tahu apakah setelah detik ini mampu menuliskan untaian kalimat indah ini untuk orang yang mempengaruhi kehidupan saya. Bagi saya jika saat ini masih segar dalam ingatan kenangan bersama mereka kenapa tidak dituliskan saja?

                                                                                                                                       RN