Translate

Rabu, 07 Mei 2014

Karya Ryan Subagia



March, 22th 2014
02.57 PM

 
Ryan Subagia di depan Gor Universitas Mulawarman Samarinda
Tulisan ini dibuat oleh Ryan Subagia salah satu siswa SDN 032 Tanah Grogot Paser Kalimantan Timur. Pertama kali saya mengenalnya ketika pramuka untuk pisah sambut saya dengan Pengajar Muda sebelumnya di sekolah. Saya mendengarkan dia bernyanyi Tanah Air Indonesia dengan merdunya.

Ketika proses belajar mengajar dimulai, saya melihat potensi anak ini luar biasa. Dia seperti memiliki kecerdasan majemuk. Dia mampu mengoptimalkan kemampuan otak kanan dan kirinya secara seimbang. Secara akademis dia menonjol dibanding teman-temannya dan ternyata kecerdasannya di bidang akademis juga diimbangi oleh kemampuan dalam kecerdasan seni seperti menyanyi, mengarang, dan menggambar.

Ryan sangat senang menggambar pesawat. Di setiap tulisan yang diberikannya kepada saya selalu disertai dengan gambar pesawat. Uniknya dibalik semua potensinya cita-cita sangat sederhana ingin menjadi TNI. Katanya dia ingin menjaga Indonesia tempatnya dilahirkan dan dibesarkan. Benar-benar sebuah cita-cita yang mulia.

Saya melihat matanya selalu berbinar ketika menemui hal baru. Dia selalu bersemangat membaca buku-buku yang saya sodorkan terkait dengan sains. Dia menyelesaikan buku-buku tersebut dengan lahapnya. Dia senang bertanya tentang hal-hal yang ditemuinya. Ketika saya membawa dia ke Samarinda untuk lomba olimpiade fisika ke tingkat provinsi mewakili kabupaten, saya melihat dia senang memperhatikan perjalanan dan tersenyum berasama hembusan angin yang menerpa wajahnya. Saya tidak tahu apa yang dipikirkannya, saya membiarkan dia untuk mencerna pemikirannya melalui perjalanan itu.

Sekarang saya mulai mengenalkan ke dia buku biografi para pemikir dunia di bidang filsafat seperti Plato, Aristoteles, dan Sacrotes. Tujuan saya mengenalkan buku tersebut hanya ingin mengajak dia untuk selalu berkelana dengan pemikiran-pemikirannya serta selalu kritis jika menemui hal-hal baru.

Pengalaman

Pada suatu hari, saya mengikuti sebuah lomba fisika dan saya lolos masuk 10 besar tingkat kabupaten. Hati saya sangat senang dan akan berlomba lagi di Samarinda. Sebelum saya berangkat kesana saya minta izin kepada orang tua saya sesudah itu saya berangkat menaiki sebuah mobil selama 4 jam. Sesampai di Penajam Paser utara , saya menyeberangi laut dengan sebuah kapal. Saya melihat pemandangan yang sangat indah permai, angin bertiup sejuk, dan kapal-kapal berlayar.
 
Sesampai di tepian, saya beristirahat menghilangkan penat di sebuah warung, sambil menikmati makanan yang telah dipesan. Beberapa menit kemudian saya meneruskan perjalanan dan saya menaiki sebuah bis ke Balikpapan selama 3 jam. Sesampai di Balikpapan saya turun di terminal saya turun dari mobil itu dan menaiki sebuah bus yang lain selama 5 jam dan saya melihat pemandangan alam yang luar biasadan saya pun tertidur lelap sekali. 

2 jam kemudian saya terbangun ternyata saya di hutan suharto perbatasan Balikpapan sama Samarinda. Perjalanan masih jauh, tak lama kemudian saya melewati jembatan mahakam yang pernah roboh waktu itu, saya pun hampir sampai di terminal. Beberapa menit kemudian saya sampai di terminal dan saya pun turun dengan badan lemas.

Sayapun dijemput Pak Farhan dan diantar sampai rumah. Dan hari semakin gelap sayapun sampai di rumah dan berkenalan dengan kakak-kakak disana. Dan sayapun seholat maghrib, setelah sholat maghrib saya makan bersama-sama. Sesudah makan saya mandi terlebih dahulu sebelum tidur. Sesudah mandi saya sholat isya, sayapun tidur dengan nyenyak.

Keesokan harinya saya pun terbangun. Sayapun langsung mandi untuk berlomba. Sesudah mandi saya memakai baju seragam sekolah dan berangkat kesana diantar oleh kakak-kakak. Sesampai disana saya bertemu dengan teman-teman dari grogot. Sayapun berkenalan dengannya dan sayapun langsung masuk ke ruangan. Sesudah masuk sayapun langsung mencari bangku yang telah ditentukan. Sayapun berlomba disana selama 2 jam. Setelah berlomba sayapun pulang menuju rumah. Sesudah sampai saya beristirahat, hari sudah senja saya bangun dan diajak jalan-jalan ke toko buku sesungguhnya oleh bu esil. Sayapun senang, saya disuruh mengambil 2 buah buku yang disuka. Saya mengambil alqur’an yang ada terjemahannya.

Saya berkeliling lagi mencari buku dan akhirnya saya menemukan sebuah buku yang sangat saya sukai judulnya koncong pocong dan sayapun pulang ke rumah. Hari semakin gelap. Saya pun membaca buku yang telah dibeli sore tadi. Beberapa jam kemudian saya diajak oleh kakak-kakak ke pinggir laut. Saya melihat kapal-kapal besar yang lewat. Dan saya pulang ke rumah, sampai di rumah saya langsung sholat isya. Sesudah sholat saya langsung tidur. Besok pulang ke grogot.
 
Hari subuh pagi saya mandi dan siap-siap untuk pulang. Sebelum pulang saya diajak oleh Kak Nova ke supermarket untuk beli cemilan di jalan, sesudah itu saya berangkat pulang. Dan berpamitan dengan kakak-kakak.

Beberapa jam kemudian, saya sampai di balikpapan. Dan saya meneruskan ke Penajam dan menyeberangi lautan selama 20 menit. Setelah sampai saya menaiki ojek sampai terminal dan sholat ashar dulu. Setelah sholat saya mencari makan dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Sesudah makan saya masuk ke dalam mobil. Beberapa jam kemudian saya sampai di grogit. Dan berhenti disitu dan dijemput oleh teman Bu Esil. Dan akhirnya saya sampai di rumah dan saya mendapat pengalaman yang sangat banyak dari sana.
                                                                                       

Guru
Guru kaulah pahlawanku
Kau tidak pernah putus asa mengajarkan ilmu kepada kami,
Kaulah sangat berjasa bagi dunia
Tanpa kau kami tidak bisa membaca dan menulis
Kami harus membalas dengan apa?
Telah banyak ilmu yang telah kau berikan kepada kami
Kami sering membuat engkau marah, tapi engkau selalu memaafkan kami
Terima kasih guruku semoga Allah SWT
Membalas jasa-jasa engkau kepada kami
Terima kasih wahai guruku

                                                                    By : Ryan Subagia                                                                                         

Les Kebebasan



May, 6th 2014
08.39 PM

“Anak-anak adalah sumber daya dunia yang paling bernilai dan harapan terbaik untuk masa depan.”
John Fitzgerald Kennedy (Presiden Amerika ke-35)
Ini adalah kegiatan kami di perpustakaan ketika Les Kebebasan

Motivasiku menjadi Pengajar Muda sederhana yaitu ingin berbagi mimpi dengan anak-anak yang ada di Indonesia. Aku hanya ingin mengenalkan dunia luar yang mungkin belum mereka kenal dan mengajak mereka mengasah potensi-potensi yang dimilikinya. Aku tidak menyangka kecintaanku terhadap buku dan kebebasan berpikir menuntunku menemukan mutiara-mutiara terpendam di sekolah penempatanku.

Sekali seminggu aku menjadwalkan satu hari les yang kuberi nama “Les Kebebasan”. Ketika les ini aku membebaskan anak-anak beraktivitas di perpustakaan sekolah. Disinilah aku melihat anak-anak bebas berekspresi mendayagunakan kemampuan otaknya menulis, menggambar, membaca, serta memotret.

Ibu guru dan murid-muridnya berlomba-lomba melakukan aktivitas-aktivitas tersebut. Aku biasanya menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku. Ketika membaca tersebut anak-anak kelas kecil akan berebut duduk di sebelahku sambil membawa perlengkapan perangnya berupa buku bacaan, alat tulis untuk menulis dan menggambar. Tanpa perlu diberi intruksi mereka akan mengerjakan aktivitas-aktivitas yang disukainya. Sembari menggambar, membaca, menulis, dan memotret mereka nanti berebutan untuk menceritakan hal-hal yang mereka kerjakan. Bagi yang membaca buku akan berfantasi dengan buku bacaannya melalui gambar yang dilihatnya. Anak-anak yang menggambar akan sibuk melihat gambar-gambar di buku perpustakaan dan kemudian menuangkan gambar tersebut ke buku gambarnya. Serta anak-anak yang menulis biasanya berkhayal tentang nenek-nenek atau kakek-kakek yang lagi menyebarangi jalan atau membuat beberapa pantun. Nantinya anak-anak yang suka memotret akan dengan senang hati meminjam kameraku untuk memotret seluruh aktivitas yang kita lakukan di les tersebut.

Di les kebebasan ini anak-anak akan sangat antusias untuk bertanya kepadaku tentang hal-hal yang tidak mereka ketahui. Aku sangat senang ketika anak-anak berani bertanya dan kritis menanggapi suatu pernyataan dan aku juga senang menggiring anak-anak untuk berpikir lebih dalam tentang berbagai hal. Tidak hanya anak-anak bertanya dimulai dari kata “apa”, tetapi sekarang sudah diarahkan untuk bertanya “kenapa” dan “bagaimana”.

Melalui aktivitas-aktivitas ini aku melihat kemampuan anak-anak murid ini. Mereka selalu semangat untuk melakukan berbagai aktivitas ini dan selalu tertarik bertanya jika menemukan sesuatu yang baru. Ini benar-benar suatu hal luar biasa yang ku temukan di sekolah penempatan. Mereka luar biasa karena kemauannya untuk menjadi lebih baik. Mereka luar biasa dengan kemampuan yang dimilikinya. Anak-anak ini adalah mutiara asli Indonesia yang butuh sentuhan dan dukungan untuk melakukan berbagai aktivitas yang disukainya.

Kebebasan memberi mereka kesempatan untuk berekspresi secara luas. Ternyata kebebasan ini membuat mereka berhasil membuat karya yang bagiku dahulu ketika masih duduk di sekolah dasar adalah hal mustahil. Kenapa? Karena dulu kebebasan seperti ini tidak kami miliki. Kami hanya mengikuti sistem yang berlaku dahulu dijamannya yang menuntut pendidikan adalah belajar keras dengan menghapal buku, tanpa perlu mengasah kemampuan di bidang lain yang mengarah ke kesenian.

Hal-hal seperti ini tidak ingin aku lakukan kepada murid-muridku. Bagiku kebebasan adalah kesempatan untuk melakukan lebih. Ketika aku memberikan kebebasan kepada murid-muridku untuk melakukan berbagai aktivitas tersebut, menunjukkan bahwa aku percaya mereka bisa menghasilkan berbagai kesempatan luar biasa melalui aktivitas yang dipilihnya.

Ternyata hasilnya benar-benar diluar dugaan, mereka mampu menghasilkan sebuah karya yang bagiku itu adalah luar biasa. Mereka telah berhasil menumbuhkan keberanian dan kepercayaan diri dalam mengembangkan imajinasi pikirannya. Aku percaya kebebasan terikat yang diberikan kepada setiap orang akan mampu mengeluarkan potensi-potensi yang mereka miliki. Jadi jika kita ingin anak-anak menjadi generasi yang tangguh berikanlah kebebasan kepada mereka.

Tulisan ini merupakan pengantar untuk menggiring pembaca melihat karya beberapa muridku yang telah sempat dikumpulkan. Karya-karya mereka sengaja tidak saya ubah tatanan bahasanya, agar karya kelihatan lebih orisinal.

                                                                                          RN

Kamis, 03 April 2014

Keberanian Itu Merupakan Kesempatan



March, 6th 2014
06.24 AM
Salah satu murid sedang melukiskan karyanya di depan teman-temannya
Ini bukanlah sebuah cerita mengenai belajar kreatif yang saya terapkan di kelas, tetapi ini adalah sebuah cerita tentang mengasah keberanian murid.
Saya adalah guru bantu di SDN 032 Tanah Grogot. Di sekolah ini saya mengajar matematika kelas 1, 2, 3, dan 5 serta Bahasa Indonesia untuk kelas 6. Selain mengajar di kelas, saya juga memberikan les untuk semua murid yang ada di sekolah tersebut.
Saya bertekad selama mengajar di sekolah ini ada beberapa perubahan pada murid-murid saya. Perubahan besar yang ingin saya lihat di murid-murid adalah memupuk rasa berani untuk berbicara di depan kelas. Salah satu cara yang telah saya terapkan di kelas 5 yaitu memberikan kesempatan kepada anak-anak tersebut maju ke depan sebelum pelajaran dimulai selama 10 menit. Di depan kelas mereka diharapkan mampu menampilkan hal-hal yang disukainya sepertinya berbicara, bernyanyi, berpantun, story telling, menggambar, dan lain sebagainya.
Anak-anak yang tampil ditentukan oleh nomor lot yang telah kami buat di kelas bersama-sama. Sehingga, semua anak mendapatkan peluang yang sama ketika diambil lot-lot tersebut. Mereka tidak bisa menolak, ketika namanya mendapat urutan yang pertama. Sebelum kita membahas tentang memupuk keberanian ini lebih lanjut, ada hal menarik yang bisa dipelajari dengan peluang mengambil lot nama anak-anak dengan penentuan tampil secara hompipa yaitu berupa kepasrahan.
Anak-anak harus siap dan pasrah jika setiap lot diambil atau hompipa dimulai karena peluang mereka untuk mendapat kesempatan adalah sama. Ekspektasi mereka juga sama yaitu sama-sama nol. Cara ini sangat menarik untuk dilakukan karena wajah-wajah cemas anak-anak ketika menarik lot atau bermain hompipa adalah wajah-wajah yang penuh dengan kepasrahan. Ketika namanya tercabut, ekpresi wajahnya langsung berkomentar “aihss dapat urutan pertama” dan sebagian besar lainnya akan mengatakan “yes”.

Setelah semua lot tercabut, terlihat urutan anak-anak tampil di depan kelas. Awalnya anak-anak di kelas 5 protes tidak mau melakukan kegiatan tersebut. Gurunya akhirnya melakukan pendekatan melalui cerita orang-orang yang sukses karena keberaniannya. Awalnya anak-anak yang mendapat giliran pertama masih malu-malu untuk berbicara di depan kelas, tetapi setelah diberikan penghargaan oleh teman-temannya berupa semangat akhirnya anak-anak tersebut mulai berani untuk tampil di depan kelas.
Beberapa perubahan yang telah terjadi kelas 5 tersebut yaitu mereka yang biasanya tidak berani berbicara di depan kelas, sekarang menjadi lebih berani. Seperti contoh murid saya yang bernama Riska sebelumnya tidak pernah maju ke depan kelas, sekarang dia berani menggambar hasil karyanya di papan tulis dengan percaya diri. Selain Riska ada Ayu yang tampil gemilang dengan story telling-nya, Marini yang jago bernyanyi, Jumadi yang pintar merangkai pantun, Nur yang mempunyai tingkat percaya diri melebihi teman-temannya, serta Dakmal yang mampu memberikan semangat ke teman-temannya ketika tampil di depan kelas. Itu baru sebagian kecil perubahan yang telah dilakukan oleh murid-murid saya.
Hal yang ingin saya pelajari disini yaitu ternyata keberanian itu bisa diwujudkan jika anak-anak diberikan ruang ekspresi dan kepercayaan. Saat mereka diberikan waktu untuk berekspresi, mungkin mereka tidak akan berani melakukan jika teman-temannya tidak percaya anak tersebut mampu melakukankannya. Tetapi ketika teman-temannya menatap dengan penuh kepercayaan ketika anak tersebut tampil di kelas saat itulah anak tersebut memanfaatkan waktu untuk berekspresi. Disni terlihat bahwa hukum aksi dan reaksi yang telah diciptakan oleh Tuhan bekerja sama dengan anak-anak di kelas tersebut.

                                                                                                               RN

Bang Abeng (Suku Talang Mamak), Butet Manurung (Sokola Anak Rimba), dan Saya (Pengajar Muda)



Feb, 19th 2014
08.46 PM
Murid SDN 032 Tanah Grogot Kab. Paser Kalimantan Timur
Sukarno pernah mengatakan tugas seorang terdidik adalah mendidik. Banyak cara yang dilakukan oleh orang-orang untuk mendidik secara baik. Tetapi, masih sedikit yang benar-benar peduli mendidik tanpa syarat. Inilah prolog tulisan saya sebelum menuliskan tokoh-tokoh dan benang merah diantara tokoh tersebut.
Salah satu tokoh yang saya kenal pernah memberikan pendidikan tanpa syarat adalah Bang Abeng. Saya mengenal beliau ketika bekerja di salah satu NGO yang bergerak di bidang lingkungan di daerah Riau. Ketika masa-masa mau resign dari kantor saya pernah melakukan perjalanan dengan beliau. Di mobil beliau bercerita tentang kegiatannya selama bekerja di NGO tersebut. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah ketika dia bercerita pengalamannya dengan Suku Talang Mamak di Pedalaman Riau.
Bang Abeng dikenal sebagai tetua Suku Talang Mamak, karena keberaniannya terjun langsung ke wilayah Suku Talang Mamak sekitar tahun 1987. Di tahun tersebut bukanlah hal mudah terjun langsung ke suku pedalaman yang belum tersentuh oleh peradaban. Persoalan umum yang dihadapi oleh Bang Abeng adalah akses transportasi menuju pemukiman Suku Talang Mamak. Bang Abeng menghabiskan waktu sekitar 2 hari untuk mencapai pemukiman Suku Talang Mamak menggunakan darat dan sungai. Sungai yang dilalui merupakan sungai yang masih liar yang berada di Kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh.
Ketika diterjunkan ke pedalaman tersebut Bang Abeng belum terpikir untuk mengajar bagi suku anak dalam. Beliau terjun ke lapangan karena tuntutan pekerjaan sebagai orang yang bekerja di NGO Lingkungan. Beliau melakukan pendekatan ke masyarakat Suku Talang Mamak untuk mengajak masyarakat tersebut bekerja sama melakukan konservasi lingkungan. Ternyata yang beliau temui tanpa adanya ajakan melakukan konservasi lingkungan, masyarakat tersebut sudah melestarikan lingkungannya berdasarkan kearifan lokal yang telah mereka wariskan dari tetua Suku Talang Mamak sejak dahulunya[1].
Walaupun Bang Abeng melihat masyarakat Suku Talang Mamak telah melakukan konservasi lingkungan, beliau tetap berinteraksi dengan masyarakat tersebut. Namun ketika berinteraksi dengan masyarakat tersebut Bang Abeng melihat kenyataan miris yang dialami oleh masyarakat Suku Talang Mamak. Masyarakat tersebut sering dibohongi oleh pedagang dalam kegiatan jual-beli hasil hutan. Hal ini disebabkan karena masyarakat tersebut tidak ada yang bisa membaca, menulis, dan berhitung.
Melihat hal tersebut Bang Abeng tergerak hatinya untuk mengajarkan masyarakat tersebut membaca, menulis, dan berhitung. Saya masih terbayang ketika Bang Abeng bercerita ketika dia mengajarkan masyarakat tersebut, mereka masih menggunakan cawet pakaian khas suku pedalaman yang terbuat dari daun-daunan dan hanya menutup bagian vital mereka.
Selain itu beliau juga mendeskripsikan dengan detail, ketika pertama kali melihat buku dan koran, mereka seperti menemukan sebuah benda yang sangat ajaib. Mereka tertawa-tawa melihat koran dan buku tersebut sambil memeriksa semua sudut-sudut buku tersebut. Mereka bertanya-tanya tentang buku dan koran tersebut secara rinci.
Kemudian setelah dijelaskan tentang buku dan koran tersebut Bang Abeng mulai mengajari mereka membaca, menulis, dan berhitung. Pelajaran pertama yang dikenalkan oleh Bang Abeng adalah mengenal angka. Kenapa angka? Karena ketika jual beli pedagang sering menipu mereka melalui angka. Ketika nilai timbangan mereka 7 kg, maka pedagang akan bilang 4 kg. Masyarakat tersebut yang tidak mengerti huruf hanya bisa menerima kalau ternyata mereka ditipu.
Akhirnya Bang Abeng mulai mengajarkan huruf berdasarkan hal yang dipahami oleh masyarakat tersebut. Ketika Bang Abeng mengajarkan angka 1, maka beliau menganalogikan benda-benda yang mirip angka 1 yang bisa dilihat oleh masyarakat tersebut. Angka 1 ketika dipelajari oleh masyarakat tersebut adalah angka yang mirip batang pohon. Angka 4, mirip dengan kursi terbalik, angka 3 mirip dengan ular meliuk, dan angka-angka lain yang telah dianalogikan.
Ternyata prinsip analogi ini dijelaskan oleh Bang Abeng maksudnya bahwa ketika kita mendidik jangan pernah memaksakan sistem pendidikan yang  diperoleh di bangku sekolah maupun kuliah dipaksakan diterapkan ke kelompok sosial masyarakat tertentu. Hal ini disebabkan kemampuan kita menyerap dan menerapkan sistem pendidikan tersebut, tidak sama dengan kemampuan kelompok masyarakat tersebut. Semuanya sistem pendidikan yang telah kita peroleh bisa saja penerapannya di lapangan berubah, seperti yang telah dilakukan oleh Bang Abeng untuk mengajarkan masyarakat Suku Talang Mamak, beliau mengajarkan angka berdasarkan contoh benda-benda di alam sekitarnya.
Hal seperti ini 10 tahun kemudian juga dilakukan oleh Butet Manurung di masyarakat Suku Anak Dalam Jambi. Butet Manurung yang terkenal dengan diary Sokola Rimba-nya menceritakan pengalamannya ketika berinteraksi dengan masyarakat Suku Anak Dalam tersebut. Di dalam buku tersebut dijelaskan tentang perjuangannya mendapat kepercayaan masyarakat tersebut agar mau belajar membaca, menulis, dan berhitung. Butet Manurung terjun memberikan pendidikan bagi masyarakat tersebut, karena melihat kenyataan yang didengarnya tentang masyarakat tersebut yang tidak bisa baca, tulis, dan hitung sehingga sering ditipu oleh pedagang.
Perlahan-lahan Butet mendekati masyarakat tersebut, mengikuti kearifan lokal mereka, dan tinggal dengan mereka di tengah hutan. Melihat kenyataan tersebut masyarakat perlahan-lahan membuka diri dan mau belajar dengan Butet. Cara Butet mengajar ternyata sama dengan Bang Abeng. Dia mengajar berdasarkan contoh nyata yang dilihat di kehidupan sehari-hari masyarakat.
Bisa dilihat betapa sederhananya cara pengajaran yang telah dilakukan oleh Bang Abeng dan Butet Manurung agar masyarakat tersebut mengerti dasar membaca, menulis, dan berhitung. Buktinya dapat dilihat sekarang salah satu murid asuhan Butet Manurung berhasil masuk kuliah di Universitas Jambi dan Bang Abeng berhasil menjadi tokoh desa tanpa melupakan jasa gurunya.
Prestasi yang telah berhasil diukir oleh Butet Manurung dan Bang Abeng di bidang pendidikan untuk kaum marjinal tidak hanya terputus sampai disana. Ternyata, sekarang banyak orang yang peduli terhadap pendidikan untuk kaum marginal. Kaum marjinal disini tidak hanya digambarkan sebagai penduduk suku pedalaman, tetapi juga masyarakat yang tinggal di daerah terpencil, yang susah akses transportasinya, dan mempunyai permasalahan sosial yang cukup rumit.
17 tahun kemudian ternyata saya meneruskan perjuangan Bang Abeng dan Butet Manurung untuk terjun langsung di dunia pendidikan. Dulu ketika masih kuliah membaca buku Sokola Rimba saya membayangkan menjadi guru untuk anak-anak pedalaman. Ternyata sekarang menjadi kenyataan, saya menjadi guru SD di salah satu sudut Kalimantan Timur yang jaraknya lumayan dekat dengan ibukota kabupaten, tetapi kenyataan kualitas pendidikannya masih perlu diperhatikan.
Namun hal itu, tidak menjadi masalah ketika saya berkaca ke perjuangan Bang Abeng dan Butet Manurung memberikan pendidikan ke anak-anak suku dalam. Dalam mengajar sehari-hari saya selalu ingat pesan Bang Abeng, “jangan pernah memaksakan sistem pendidikan yang telah kamu dapat ke suatu kelompok masyarakat tertentu, karena tingkat pemahaman yang berbeda”. Berpedoman dengan kata-kata tersebut, saya tidak memaksakan anak-anak untuk mengikuti standar pendidikan yang telah saya tetapkan, tetapi saya mengikuti tingkat pemahaman mereka dalam menyerap pelajaran.
Kita lebih banyak bermain sambil belajar ketika di sekolah. Salah satu yang terapkan dari kegiatan Bang Abeng dan Butet Manurung adalah belajar dari alam maupun lingkungan sekitarnya agar anak-anak lebih gampang menyerap pelajaran. Ternyata dengan metode seperti ini, anak-anak di sekolahku tidak terlalu terbebani dengan mata pelajaran yang saya asuh.
Terima kasih banyak Bang Abeng dan Butet Manurung, dari pengalaman kalian mengajar masyarakat suku dalam saya menemukan satu pelajaran penting dalam sistem pendidikan yang ramah manusia yaitu jangan pernah menganggap kita adalah seorang guru yang lebih pintar dari murid-muridnya, tapi jadikan anak-anak murid sebagai sumber inspirasi untuk menemukan cara mengajar yang tepat.

                                                                                                               RN


[1] Kearifan Lokal Suku Talang Mamak akan diceritakan di cerita lainnya