Translate

Kamis, 03 April 2014

Bang Abeng (Suku Talang Mamak), Butet Manurung (Sokola Anak Rimba), dan Saya (Pengajar Muda)



Feb, 19th 2014
08.46 PM
Murid SDN 032 Tanah Grogot Kab. Paser Kalimantan Timur
Sukarno pernah mengatakan tugas seorang terdidik adalah mendidik. Banyak cara yang dilakukan oleh orang-orang untuk mendidik secara baik. Tetapi, masih sedikit yang benar-benar peduli mendidik tanpa syarat. Inilah prolog tulisan saya sebelum menuliskan tokoh-tokoh dan benang merah diantara tokoh tersebut.
Salah satu tokoh yang saya kenal pernah memberikan pendidikan tanpa syarat adalah Bang Abeng. Saya mengenal beliau ketika bekerja di salah satu NGO yang bergerak di bidang lingkungan di daerah Riau. Ketika masa-masa mau resign dari kantor saya pernah melakukan perjalanan dengan beliau. Di mobil beliau bercerita tentang kegiatannya selama bekerja di NGO tersebut. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah ketika dia bercerita pengalamannya dengan Suku Talang Mamak di Pedalaman Riau.
Bang Abeng dikenal sebagai tetua Suku Talang Mamak, karena keberaniannya terjun langsung ke wilayah Suku Talang Mamak sekitar tahun 1987. Di tahun tersebut bukanlah hal mudah terjun langsung ke suku pedalaman yang belum tersentuh oleh peradaban. Persoalan umum yang dihadapi oleh Bang Abeng adalah akses transportasi menuju pemukiman Suku Talang Mamak. Bang Abeng menghabiskan waktu sekitar 2 hari untuk mencapai pemukiman Suku Talang Mamak menggunakan darat dan sungai. Sungai yang dilalui merupakan sungai yang masih liar yang berada di Kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh.
Ketika diterjunkan ke pedalaman tersebut Bang Abeng belum terpikir untuk mengajar bagi suku anak dalam. Beliau terjun ke lapangan karena tuntutan pekerjaan sebagai orang yang bekerja di NGO Lingkungan. Beliau melakukan pendekatan ke masyarakat Suku Talang Mamak untuk mengajak masyarakat tersebut bekerja sama melakukan konservasi lingkungan. Ternyata yang beliau temui tanpa adanya ajakan melakukan konservasi lingkungan, masyarakat tersebut sudah melestarikan lingkungannya berdasarkan kearifan lokal yang telah mereka wariskan dari tetua Suku Talang Mamak sejak dahulunya[1].
Walaupun Bang Abeng melihat masyarakat Suku Talang Mamak telah melakukan konservasi lingkungan, beliau tetap berinteraksi dengan masyarakat tersebut. Namun ketika berinteraksi dengan masyarakat tersebut Bang Abeng melihat kenyataan miris yang dialami oleh masyarakat Suku Talang Mamak. Masyarakat tersebut sering dibohongi oleh pedagang dalam kegiatan jual-beli hasil hutan. Hal ini disebabkan karena masyarakat tersebut tidak ada yang bisa membaca, menulis, dan berhitung.
Melihat hal tersebut Bang Abeng tergerak hatinya untuk mengajarkan masyarakat tersebut membaca, menulis, dan berhitung. Saya masih terbayang ketika Bang Abeng bercerita ketika dia mengajarkan masyarakat tersebut, mereka masih menggunakan cawet pakaian khas suku pedalaman yang terbuat dari daun-daunan dan hanya menutup bagian vital mereka.
Selain itu beliau juga mendeskripsikan dengan detail, ketika pertama kali melihat buku dan koran, mereka seperti menemukan sebuah benda yang sangat ajaib. Mereka tertawa-tawa melihat koran dan buku tersebut sambil memeriksa semua sudut-sudut buku tersebut. Mereka bertanya-tanya tentang buku dan koran tersebut secara rinci.
Kemudian setelah dijelaskan tentang buku dan koran tersebut Bang Abeng mulai mengajari mereka membaca, menulis, dan berhitung. Pelajaran pertama yang dikenalkan oleh Bang Abeng adalah mengenal angka. Kenapa angka? Karena ketika jual beli pedagang sering menipu mereka melalui angka. Ketika nilai timbangan mereka 7 kg, maka pedagang akan bilang 4 kg. Masyarakat tersebut yang tidak mengerti huruf hanya bisa menerima kalau ternyata mereka ditipu.
Akhirnya Bang Abeng mulai mengajarkan huruf berdasarkan hal yang dipahami oleh masyarakat tersebut. Ketika Bang Abeng mengajarkan angka 1, maka beliau menganalogikan benda-benda yang mirip angka 1 yang bisa dilihat oleh masyarakat tersebut. Angka 1 ketika dipelajari oleh masyarakat tersebut adalah angka yang mirip batang pohon. Angka 4, mirip dengan kursi terbalik, angka 3 mirip dengan ular meliuk, dan angka-angka lain yang telah dianalogikan.
Ternyata prinsip analogi ini dijelaskan oleh Bang Abeng maksudnya bahwa ketika kita mendidik jangan pernah memaksakan sistem pendidikan yang  diperoleh di bangku sekolah maupun kuliah dipaksakan diterapkan ke kelompok sosial masyarakat tertentu. Hal ini disebabkan kemampuan kita menyerap dan menerapkan sistem pendidikan tersebut, tidak sama dengan kemampuan kelompok masyarakat tersebut. Semuanya sistem pendidikan yang telah kita peroleh bisa saja penerapannya di lapangan berubah, seperti yang telah dilakukan oleh Bang Abeng untuk mengajarkan masyarakat Suku Talang Mamak, beliau mengajarkan angka berdasarkan contoh benda-benda di alam sekitarnya.
Hal seperti ini 10 tahun kemudian juga dilakukan oleh Butet Manurung di masyarakat Suku Anak Dalam Jambi. Butet Manurung yang terkenal dengan diary Sokola Rimba-nya menceritakan pengalamannya ketika berinteraksi dengan masyarakat Suku Anak Dalam tersebut. Di dalam buku tersebut dijelaskan tentang perjuangannya mendapat kepercayaan masyarakat tersebut agar mau belajar membaca, menulis, dan berhitung. Butet Manurung terjun memberikan pendidikan bagi masyarakat tersebut, karena melihat kenyataan yang didengarnya tentang masyarakat tersebut yang tidak bisa baca, tulis, dan hitung sehingga sering ditipu oleh pedagang.
Perlahan-lahan Butet mendekati masyarakat tersebut, mengikuti kearifan lokal mereka, dan tinggal dengan mereka di tengah hutan. Melihat kenyataan tersebut masyarakat perlahan-lahan membuka diri dan mau belajar dengan Butet. Cara Butet mengajar ternyata sama dengan Bang Abeng. Dia mengajar berdasarkan contoh nyata yang dilihat di kehidupan sehari-hari masyarakat.
Bisa dilihat betapa sederhananya cara pengajaran yang telah dilakukan oleh Bang Abeng dan Butet Manurung agar masyarakat tersebut mengerti dasar membaca, menulis, dan berhitung. Buktinya dapat dilihat sekarang salah satu murid asuhan Butet Manurung berhasil masuk kuliah di Universitas Jambi dan Bang Abeng berhasil menjadi tokoh desa tanpa melupakan jasa gurunya.
Prestasi yang telah berhasil diukir oleh Butet Manurung dan Bang Abeng di bidang pendidikan untuk kaum marjinal tidak hanya terputus sampai disana. Ternyata, sekarang banyak orang yang peduli terhadap pendidikan untuk kaum marginal. Kaum marjinal disini tidak hanya digambarkan sebagai penduduk suku pedalaman, tetapi juga masyarakat yang tinggal di daerah terpencil, yang susah akses transportasinya, dan mempunyai permasalahan sosial yang cukup rumit.
17 tahun kemudian ternyata saya meneruskan perjuangan Bang Abeng dan Butet Manurung untuk terjun langsung di dunia pendidikan. Dulu ketika masih kuliah membaca buku Sokola Rimba saya membayangkan menjadi guru untuk anak-anak pedalaman. Ternyata sekarang menjadi kenyataan, saya menjadi guru SD di salah satu sudut Kalimantan Timur yang jaraknya lumayan dekat dengan ibukota kabupaten, tetapi kenyataan kualitas pendidikannya masih perlu diperhatikan.
Namun hal itu, tidak menjadi masalah ketika saya berkaca ke perjuangan Bang Abeng dan Butet Manurung memberikan pendidikan ke anak-anak suku dalam. Dalam mengajar sehari-hari saya selalu ingat pesan Bang Abeng, “jangan pernah memaksakan sistem pendidikan yang telah kamu dapat ke suatu kelompok masyarakat tertentu, karena tingkat pemahaman yang berbeda”. Berpedoman dengan kata-kata tersebut, saya tidak memaksakan anak-anak untuk mengikuti standar pendidikan yang telah saya tetapkan, tetapi saya mengikuti tingkat pemahaman mereka dalam menyerap pelajaran.
Kita lebih banyak bermain sambil belajar ketika di sekolah. Salah satu yang terapkan dari kegiatan Bang Abeng dan Butet Manurung adalah belajar dari alam maupun lingkungan sekitarnya agar anak-anak lebih gampang menyerap pelajaran. Ternyata dengan metode seperti ini, anak-anak di sekolahku tidak terlalu terbebani dengan mata pelajaran yang saya asuh.
Terima kasih banyak Bang Abeng dan Butet Manurung, dari pengalaman kalian mengajar masyarakat suku dalam saya menemukan satu pelajaran penting dalam sistem pendidikan yang ramah manusia yaitu jangan pernah menganggap kita adalah seorang guru yang lebih pintar dari murid-muridnya, tapi jadikan anak-anak murid sebagai sumber inspirasi untuk menemukan cara mengajar yang tepat.

                                                                                                               RN


[1] Kearifan Lokal Suku Talang Mamak akan diceritakan di cerita lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar