Translate

Rabu, 07 Mei 2014

Karya M. Usup Nasrun



April, 3rd 2014
08.05 AM
 
Usup dengan semangatnya

Usup salah satu siswa favoritku. Kenapa? Dia menjadi favorit karena anaknya membebaskan semua pikiran dirinya. Dia anak yang selalu think out of the box. Dia selalu mempunyai cara untuk menyelesaikan suatu kerjaan secara efisien dan selalu berpikiran kalau bisa dilakukan dengan cepat dan mudah, kenapa harus menyelesaikan secara rumit.

Saya teringat  pertama kali benar-benar “melihat” Usup adalah ketika dia selalu hadir di kelas latihan Olimpiade Sains Kuark. Usup ikut dengan teman-temannya, walaupun dia buka peserta olimpiade tersebut. Minat belajarnya sangat tinggi, hal ini bisa dilihat dari sorot matanya yang selalu ingin tahu. Akhirnya setelah beberapa kali pertemuan dan melihat potensinya, saya menawarkan dia untuk ikut Olimpiade Sains Kuark. Dia langsung mengiyakan permintaan tersebut. Beruntung sekali Usup masih bisa mendaftar di menit terakhir Olimpiade Sains Kuark. Ternyata semangat belajarnya yang tinggi dalam menghadapi Olimpiade Sains Kuark tidak sia-sia.

Usup berhasil melaju ke babak semifinal olimpiade itu. Dia sekarang bersama teman-temannya wakil sekolah sedang menunggu pengumuman olimpiade tanggal 19 Mei 2014. Cita-cita Usup sekarang adalah bisa melaju ke babak final Olimpiade Sains Kuark.

Pangeran Wijaya

Pada suatu hari hiduplah seorang Pangeran Wijaya, ia ramah, baik hati, dan penolong. Pada suatu hari, ia berjalan dan melihat seseorang yang duduk sendiri. Pangeran Wijaya mendekati orang itu dan berkata, “wahai bapak mengapa wajahmu lesu begitu?”, bapak itu berkata, “ saya tidak punya uang dan belum makan.” Pangeran Wijaya “oh begitu, ini saya punya uang buat bapak membeli makanan.”, “terima kasih nak”, kata bapaknya.

Pangeran Wijaya melanjutkan perjalanan, tiba-tiba ia mendengat suara orang yang meminta tolong. Ia mendengar suara orang yang meminta tolong. Ia berjalan mencari darimana asal suara itu. Ternyata ada wanita yang ingin dirampok dan ia langsung menolong orang itu. Tak lama kemudian perampok itu kalah dan meminta maaf kepada Pangeran Wijaya. Wanita itu berterima kasih kepada Pangeran Wijaya. 

Keesokannya pangeran ditugaskan oleh raja untuk menemaninya berburu. Pangeran Wijaya mengiyakan ajakan sang raja. Ketika sampai di hutan, raja melihat seekor rusa. Raja pun langsung mengambil busur untuk memanah rusa itu. Ketika raja melepaskan busurnya, rusa tersebut terkena dan langsung lemah tak berdaya. Raja pun kembali dengan gembira.

Ketika sampai di istana raja membagi dua rusa tersebut untuk membaginya kepada pangeran. Raja mengucapkan terima kasih kepada pangeran karena telah menemaninya berburu rusa.

                                                                                                By : M. Usup Nasrun

Karya Rus Mitasari



April, 3rd 2014
06.00 AM

 
Rus Mitasari sebagai Pengetik Komputer
Ketika memasuki ruangan kelas 6 di awal penempatan menjadi Pengajar Muda, saya membawa sebuah laptop. Ada seorang anak dengan mata berbinar-binar melihat laptop ini. Saya tidak tahu pesona yang dipancarkan oleh laptop ini. Setelah saya membuka laptop, anak-anak berbisik-bisik ke anak yang matanya berbinar-binar tersebut.

Akhirnya setelah agak lama terjebak dengan kebingungan tersebut, salah satu anak menjelaskan kepada saya bahwa anak tersebut bercita-cita menjadi pengetik komputer. Saya diam mendengarkannya dan memikirkan sederhana sekali cita-cita ini anak. Cita-citanya tidak setinggi langit, anak ini tidak ambisius untuk bercita-cita tinggi.

Setelah berkenalan dengan anak tersebut, saya baru tahu namanya Rus Mitasari. Dia bercerita ingin menjadi juru ketik suatu saat. Dia melihat orang yang berada dibalik layar komputer adalah sosok yang hebat. Melihat matanya yang berbinar-binar tersebut, saya menyerahkan laptop ini ke dia dan menyuruhnya mengetik di laptop. 

Dia seperti kejatuhan durian runtuh. Dia memperlakukan laptop ini seperti orang tua membelai anaknya. Dia mengangumi seluruh komponen yang ada di laptop ini. Tangannya gemetaran mengetik huruf pertama, tetapi matanya memancarkan sinar yang sangat terang dan senyumnya terkembang merekah ketika menyentuhkan jemarinya ke laptop ini.

Bahagia sekali Sari dengan laptop ini. Dia tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan untuk mengetik di laptop ini. Ternyata mengetik di laptop adalah pengalaman pertama bagi Sari.

Sari, saya hanya berdo’a semoga suatu saat kamu menjadi juru komputer yang ahli di Indonesia. Tetap simpan cita-citamu untuk menjadi Pengetik Komputer.

Pohon dan Penebang Kayu

Ada seorang penebang kayu bernama serakah. Suatu hari ketika ia menebang kayu, gagang kapaknya patah. Ia mencari dahan untuk mengganti gagangnya yang patah. Sesampainya di hutan ia bertanya kepada pohon jati yang besar. “bolehkah aku meminta dahanmu?” Pohon jati menjawab, “jangan nanti tubuhky jelek.”

Kemudian serakah mendekati pohon akasia, “bolehkah aku meminta sebagian dahanmu?” Akasia menjawab, “jangan nanti aku mati kalau potong.” Serakah hampir putus asa, tiba-tiba pohon jati berbicara, “ambillah dahan sawo itu!” Penebang kayu terkejut, “karena tubuhnya kuat dan keras, jika kau ambil tidak akan mati.” jawab jati.

Sawo tidak menolak, akhirnya serakah memetong beberapa dahan. Ia pulang dengan hati berbunga-bunga. Keesokan harinya serakah menjalankan kegiatannya. Ia pergi ke hutan dengan menenteng kapak. Ia kemudian menebang kayu-kayu besar yang dijumpainya, tak terkecuali kayu jati.

Kayu jati menangis mengapa serakah tega menyakitinya. Sambil menangis jati berkata, “andai saja aku tak mengorbankan sawo, pasti aku akan selamat. Serakah tidak akan memiliki gagang kapak lagi.” Jati hanya bisa menyesal.
                                                                                               

Si Kutu Buku

Dia memang anak yang rajin. Setiap pagi dia selalu tiba di sekolah paling awal. Tidak hanya rajin datang ke sekolah, dia juga rajin membaca apa saja. Tak ada satu buku pun di perpustakaan yang belum tersentuh oleh jari-jari lembutnya. Dan tak satu  kalimat pun pada buku itu yang belum yang dibacanya. Oleh karena itu tidak heran jika semua siswa di kelas IV menjulukinya si kutu buku.

Tidak hanya rajin membaca buku, di bidang kesenian dan olahraga dia juga jagoannya. Berbagai prestasi seni dan olahraga disabetnya dari berbagai lomba yang pernah diikutinya. Kedisiplinannya dalam setia hal, tidak hanya mengantarkan gadis berparas cantik itu menjadi juara di segala bidang. Bahkan prestasi si lembut hati itu juga mengusik hati para guru dan kepala sekolah untuk menobatkannya sebagai siswa teladan bulan itu.
                                                                                              

Ruang ICU

Sore hari Yulia bermain kelereng dengan teman-temannya. Permain tersebut selalu dilakukan setiap pukul 16.30 WITA. Yulia bermain kelereng di samping balai desa yang berjarak 500 meter dari rumahnya.

Setelah selesai bermain kelereng Yulia bergegas pulang karena hari menjelang magrib. Sampai di pertigaan jalan Yulia kaget, ia melihat sosok tubuh terge;atak di pinggir jalan.

“tolong Kakek Kasan pingsan!” teriak Yulia. Setelah tahu bahwa yang pingsan adalah Kakek Kasan tetangganya. Orang-orang kampung segera berhamburan keluar. Ayah Yulia juga keluar rumah.

“Kakek Kasan kenapa Yul?” tanya ayahnya.

“pingsan yah.” Jawab Yulia.

Ayah Yulia berlari ke garasi mengeluarkan mobil ayahnya dan segera membawa Kakek Kasan ke rumah sakit. Yulia pun ikut bersama keluarga Kakek Kasan. Sesampai di rumah sakit, Kakek Kasan dibawa ke ruang Unit Gawat Darurat (UGD).

“sakit apa dok?” tanya Yulia.

“kelihatannya sakit jantung, dik. Kakekmu harus segera dirawat di ruang ICU. Di ruang ICU Kakek Kasan di rawat dengan alat pemacu jantung. Suasana hening sekali, yang terdengar hanya suara dengkuran Kakek Kasan dan bunyi alat pemacu jantung.

Yulia tertegun, sebentar-sebentar ia melihat grafik alat pemacu jantung yang bergerak tidak beraturan. Perlahan-lahan air mata Yulia menetes, ia tidak kuasa menahan tangisnya.
                                                                                               

Berpantun Ria ala Rus Mitasari

1.    Berlayar menuju ke tengah laut
Lupa membawa perahu datang
Kasihan anak tak berpengetahuan
Bagaikan katak dalam tempurung

2.    Ato kawan naik dokar
Pergi ke pasar membeli kenari
Ato kawan rajin belajar
Agar kelak menjadi insinyur

3.    Burung Irian Burung Cendrawasih
Dibawa perahu ke Jakarta
Jika berteman jangan pilih kasih
Derajat manusia semua sama

4.    Pohon Jambu sedikit liar
Melempar nuri dengan kenari
Bila kamu rajin belajar
Tentulah nanti akan berhasil

5.    Burung Kutilang terbang lepas
Kakak tua memakan roti
Jadi orang jangan malas
Di hari tua menyesal nanti

6.    Anak Gajah menarik pedati
Memahat batu tengah padang
Hilang sudah gundah do hati
Melihat ibu sudah datang
                                                                                             
                                                                              By : Rus Mitasari

Karya Rus Pitamala



April, 2nd 2014
09.33 PM

 
Rus Pitamala dengan Tulisannya
Namanya Rus Pitamala siswa kelas 6 SDN 032 Tanah Grogot Paser Kalimantan Timur. Ketika istirahat sekolah Pita menghabiskan waktunya di perpustakaan sekolah. Saya tidak tahu Pita jago membuat cerita. Ketika saya menugaskan anak-anak untuk membuat sebuah cerita di pelajaran Bahasa Indonesia, saya melihat karangan Pita bagus sekali.

Awalnya Pita malu-malu menunjukkan karangannya itu kepada saya. Tetapi, setelah dirayu akhirnya Pita mengeluarkan semua hasil karangannya. Wah saya tidak menyangka dia menulis dengan bagus sekali. Imajinasinya masih menggambarkan kalau dia menulis sebuah cerita yang sesuai dengan usianya. Sekarang pita selalu memperlihatkan karangan-karangan yang telah selesai dibuatnya kepada saya.

Selain mengarang Pita mempunyai hobi memancing ikan. Sepulang sekolah dia bersama adiknya memancing di depan rumah. Pita juga mempunyai perasaan yang halus sekali. Hal ini saya lihat baru siang ini ketika belajar Bahasa Indonesia kita membaca buku bersama-sama di perpustakaan. Pita membaca buku Hero dari Program Kick Andy, ketika membaca buku tersebut tiba-tiba dia menangis tersedu-sedu. Ternyata dia sedih membaca kisah seorang anak yang bekerja demi bisa melanjutkan sekolah. Hal seperti itu sebenarnya umumnya terjadi, tetapi Pita yang tidak mengetahui kejadian di dunia luar menganggap itu adalah kejadian yang mengharukan. Bisa kita lihat anak kecil yang masih banyak belajar, bisa menangis melihat kondisi susahnya memperoleh akses pendidikan yang layak bagi orang banyak. Bagaimana dengan kita sebagai orang dewasa melihat kenyataan itu?

Panen anggur

Aku tinggal di desa bersama kedua orangtua dan seorang kakak. Orangtuaku Pak Nyaman dan Buk Nyaman hidup berkebun, meskipun ayahku seorang insinyur, beliau lebih suka berkebun daripada bekerja sebagai pegawai pemerintah atau bekerja di perusahaan.

Ayah mengolah kebun dengan menanam bermacacm-macam buah seperti buah manggis, rambutan, mangga, apel, dan jambu air. Setiap hari sepulang sekolah dan hari-hari libur aku ikut mengolah kebun itu bersama kedua orangtua dan kakak.

Pada suatu hari aku membaca tulisan tentang cara menanam anggur pada sebuah majalah pertanian. Tulisan itu kubaca dengan cermat. Setelah membaca tulisan itu, aku ingin mencoba mempraktikkannya. Aku meminta izin kepada ayah untuk praktik menanam anggur di kebun. Ternyata ayah mengizinkan dan mendukung keinginanku. Aku segera membeli bibit anggur di sebuah toko bibit aneka macam buah-buahan dengan ayah. Aku tidak hanya membeli bibit, tetapi juga membeli pupuk kompos dan pupuk cair untuk pertumbuhan daun buah.

“ayah aku ingin belajar menanam anggur sendiri. Nanti ayah sebagai pembimbing saja ya?”, kataku saat itu kepada ayah.

Benar ayah ketika itu benar-benar hanya sebagai pembimbing. Beliau hanya memberikan saran jika aku minta saran. Beliau hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang aku ajukan ketika aku menemui kesulitan, misalnya mengenai ukuran pupuk kompos yang harus aku tanam terlebih dahulu sebelum bibit anggur kutanam. Aku benar-benar seperti seorang petani yang baru mengenal cara bercocok tanaman. Sedikit-sedikit aku bertanya kepada ayah.

Ternyata menanam anggur tidak serumit yang tertulis di majalah. Menurutku yang agak merepotkan hanyalah membuat tempat merambat pohon anggur itu sendiri. Setelah batang anggur tumbuh dewasa, menanam dan merawatnya juga tidak menyita banyak waktu. Setiap pulanh sekolah, sore hari aku memeriksa tanaman anggur itu. Hanya yang cukup melelahkan adalah menunggu kapan anggur itu berbuah.

Setelah 4 bulan menunggu, akhirnya anggur itu berbuah. Panen anggur perdana aku rayakan bersama ayah, ibu, dan kakak. Mereka kuajak ke kebun dan kupersilahkan duduk di pinggir. Aku sendiri yang memetik anggur itu. Ayah, ibu, dan kakak aku jamu dengan panenku, mesti baru berbuah beberapa tangkai. Aku sangat puas dengan panenan itu. Ayah, ibu, dan kakak memberikan ucapan selamat kepadaku.
                                                                                       
Si Jonggot
Jonggot baru berusia 8 tahun. Ia hidup bersama ibunya yang sangat miskin. Ia tinggal di sebuah gubuk tua di tepi hutan. Sebagai sumber mata pencaharian ibunya mengumpulkan sayur-mayur dari tepi hutan. Ketika ibunya jatuh sakit Jonggot menggantikan ibunya mencari sayur-mayur.

Tiba di hutan, Jonggot segera mengumpulkan sayur-mayur ke dalam keranjangnya. Tiba-tiba ia melihat seekor burung elang terkapar di semak. Sayapnya terjerat akar rotan kecil sehingga tak dapat terbang. Dalam hati ia ingin menangkap burung malang itu barangkali laku dijual. Namun, tiba-tiba burung elang itu berbicara seperti manusia, “tolonglah aku Jonggot, suatu saat nanti aku juga dapat menolongmu.”

Jonggot terharu mendengar rintihan burung itu. Ia segera melepaskan jerat rotan dan membiarkan burung itu terbang ke pucuk pohon. Burung itu mengucapkan terima kasih  dan segera terbang meninggalkan Jonggot.

Di kemudian hari sakit ibu Jonggot bertambah parah. Jonggot amat sedih> jonggot berdo’a siang malam demi kesembuhan ibunya. Namun, apa daya Tuhan Maha Pencipta berkehendak lain. Sejak ibunya meninggal Jonggot pindah dari tepi hutan ke daerah pantai. Ia ikut Pak Nelayan mencari ikan di laut.

Disaat ia sedang duduk sendirian di pantai, hatinya sedih. Jonggot sebenarnya ingin bersama teman-temannya melihat pesta kerajaan. Akan tetapi, dia bingung. Dia tidak mempunyai ayam aduan untuk dibawa ke pesta itu.

Tengah ia merenung dari laut terbanglah seekor burung elang. Burung itu berputar-putar, kemudian hinggap di atas batu.

“aku burung yang dulu pernah kamu tolong, sekarang aku datang ingin menolongmu. Bukankah kamu ingin pergi ke pesta kerajaan?”

“aku tak punya ayam janta.”

“aku akan menjelma menjadi ayam jantanmu. Ayo kita pergi!”

Tak lama kemudian burung elang itu berubah menjadi ayam jantan yang amat gagah. Akhirnya Jonggot pergi ke pesta kerajaan di kota.
                                                                                           
Gerobak Sakti Pak Jujur
Pada zaman dahulu hidup seorang petani yang berhati emas. Ia dikenal rendah hati, dermawan, dan suka menolong. Meskipun ia kaya, hidupnya sangat sederhana. Pakaian yang dipakai dan rumah yang ditempati sangat jauh dari kesan orang yang berada. Orang-orang kampung memanggilnya Pak Jujur. Ada pula yang memanggilnya Jujur Sakti. Konon, gerobak Pak Jujur terkenal sakti. Orang-orang tak pernah melihat gerobaknya keluar.

Pada siang hari, mereka hanya bertanya dalam hati, “mengapa gerobak Pak Jujur tak pernah keluar siang hari?” Pak Jujur adalah sosok petani yang ulet. Ia menggarap sawahnya seorang diri dan hanya dibantu dua ekor sapinya yang gemuk dan sehat. Pak Jujur hidup sendirian. Ia tak punya anak dan istri. Setelah panen Pak Jujur menjual padinya pada malam hari dengan harapan sampai di kota pagi hari. Selain itu, perjalanan pada malam hari lebih baik bagi sapinya.

Pekerjaan itu dilakukannya bertahun-tahun tanpa orang lain tahu. Ini yang menambah keyakinan orang-orang tentang kesaktian gerobak Pak Jujur. Pak Jujur menjual semua hasil panennya. Ia hanya menyisakan sedikit hasil sawahnya untuk keperluan hidupnya sehari-hari. Hasil menjual padinya ia bagikan kepada orang-orang miskin di kampungnya. Semakin hari hasil panen Pak Jujur semakin melimpah. Orang-orang selalu berdo’a agar Pak Jujur diberi rahmat oelh Tuhan dan semoga kebaikan hatinya dibalas oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
                                                                                           
Kancil dan Kera
Ada seekor kera menemukan kebun pisang yang luas dan banyak buahnya. Ia senang bukan kepalang. Ia ceritakan temuannya itu kepada hewan-hewan lainnya.

“tapi ingat ya kebun itu milik Pak Tani, jika kalian kesana pasti akan dibunuhnya, “ kata kera.

Si kancil juga mendengar kabar tentang kebun pisang yang luas itu. Setelah bersusah payah akhirnya menemukan kebun pisang milik Pak Tani. Kancil menyusup ke dalam, namun ia tak bisa mengambil pisang di atas pohon. Lagi berpikir keras, tiba-tiba kancil dilempari kulit pisang. Ia bermaksud lari, takut yang melemparnya adalah Pak Tani. Ketika ia mendongak ke atas tahulah pelemparnya adalah si kera nakal.

“sialan ternyata kau kera! Dasar kera jelek dan bodoh!”

“hehehe! Biar bodoh begini aku bisa memanjat dan menikmati pisang matang sepuas hatiku.”

“dasar kera bodoh! Lemparanmu tadi tidak mengenai tubuhku. Sebab kau gunakan kulitnya saja. Coba kau lempari aku dengan pisangnya pasti kena! Tapi apa kau bisa kera bodoh?”

Kera tersinggung disebut bodoh, lalu ia melempari kancil dengan pisang betulan matang. 

“nih! Benjut kau”

Kancil berkelit cepat, pisang itu tidak mengenai tubuhnya.

“dasar kera bodoh.”

“lemparanmu meleset coba lagi!”

Cukup banyak pisang yang dilempar kera. Ada 30 buah, kini ada dua buah batang pisang matang yang ada di pohon.

“hehehe.. ayo masih mau mencoba melempar lagi?” ejek kancil

Kera nekat melempar lagi, namun lemparannya tetap meleset. Kini kera mulai sadar bahwa kancil sengaja mengibulinya, karena tinggal satu buah dan kera masih lapar, ia tidak jadi melempar kancil lagi. Ia makan buah pisang yang tinggal satu buah itu. 

Sementara kancil segera mengumpulkan pisang-pisang yang berceceran dan memakannya dengan sepuas hati.

“heheheh dasar kera bodoh!”
                                                                                             
Anak Kerang
Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya, sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.

“anakku”’ kata sang ibu sambil bercucuran air mata.

“Tuhan tidak memberikan pada kita bangsa kerang, sebuah tanganpun, sehingga ibu tidak bisa menolongmu.’

Si ibu terdiam sejenak, “sakit sekali, aku tahu anakku, tetapi terimalah itu sebagai takdir alam, kuatkan hatimu, jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat”, kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Anak kerang pun meneteskan air mata, dengan air mata ia bertahan bertahun-tahun lamanya. Tetapi, tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama, makin halus. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.

Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini lebih berharga daripada sejuta kerang lainnya yang Cuma disantap orang sebagai kerang rebus dipinggir jalan.
                                                                                            
Guruku
Engkau selalu membimbingku
Tak peduli kesulitan menimpamu
Engkau selalu melaksanakan tugasmu
Disaat senang,
Engkau membimbingku
Disaat sedih,
Engkau membimbingku
Kegigihanmu bukti pengabdian,
Terhadap tugas muliamu.

                                                                                                By : Rus Pitamala